Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali mendapat tekanan dari dua tokoh sepak bola berpengaruh. Sepp Blatter, mantan presiden FIFA, dan Javier Tebas, presiden La Liga, secara terpisah menyerukan agar pria asal Swiss itu mundur dari jabatannya. Keduanya menilai kebijakan Infantino telah merusak tatanan sepak bola global.
Serangan terbuka dilontarkan Tebas saat Spanyol merayakan kemenangan Piala Dunia putri pada 20 Agustus lalu. Ia menuduh Infantino “menghancurkan industri sepak bola” dengan menempatkan turnamen internasional di atas kompetisi domestik. “Sudah saatnya dia pergi,” tegas Tebas dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport.

Blatter, yang sebelumnya terjerat skandal korupsi, juga angkat bicara melalui akun X-nya. “Penggemar, pemain, dan asosiasi nasional harus merebut kembali sepak bola dan mengembalikannya ke akarnya di bawah kepemimpinan baru,” tulisnya. Kalimat ini menjadi bagian dari desakan agar Gianni Infantino dikritik habis-habisan karena dianggap tidak lagi membawa visi yang benar untuk sepak bola.
Perluasan Piala Dunia 2030 Dinilai Tidak Masuk Akal
Salah satu pemicu utama kritik Gianni Infantino adalah rencana memperluas Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim, naik dari rencana awal 48 tim. Tebas menentang keras gagasan itu. “Menambah jumlah tim nasional tidak masuk akal,” ujarnya.
Menurut Tebas, industri sepak bola tidak hanya terdiri dari Piala Dunia. “Kompetisi nasionallah yang menopang olahraga ini. Mereka (FIFA) menghancurkan industri yang menciptakan puluhan ribu lapangan kerja hanya demi ajang selama 40 hari yang melibatkan minoritas pemain,” tambahnya. Tebas menegaskan bahwa dibutuhkan lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola di semua level.
Blatter mendukung pandangan ini. Ia menyebut Piala Dunia 2023 yang berlangsung di AS sebagai turnamen yang “kehilangan kredibilitas”. “Politik tidak boleh mengaburkan pertandingan,” tulisnya, merujuk pada berbagai kontroversi selama turnamen tersebut.
Kasus Balogun: Panggilan Trump Diduga Mempengaruhi Keputusan FIFA
Kritik Gianni Infantino juga menyoroti insiden Folarin Balogun, striker Timnas AS yang sempat diskors satu pertandingan oleh komite disiplin FIFA. Larangan itu kemudian dibatalkan setelah adanya panggilan telepon dari Presiden AS saat itu, Donald Trump, kepada Infantino. Tebas menyebut kasus ini sebagai “skandal yang sangat serius”.
Infantino sendiri membela keputusan FIFA dengan menyatakan bahwa komite disiplin bekerja secara independen berdasarkan regulasi dan fakta. Namun Tebas menuduh bahwa jika AS tidak dikalahkan Belgia di babak 16 besar, kasus ini bisa membuat Infantino kehilangan jabatannya. “Mereka beruntung Belgia menyingkirkan AS, sehingga kasus itu bisa ditutup,” kata Tebas.
Blatter menilai insiden Balogun menjadi titik puncak. “Sepanjang perjalanan menuju peluit akhir, turnamen ini kehilangan kredibilitasnya. Politik tidak boleh dibiarkan menaungi permainan,” tulisnya di X.
Istirahat Minum dan Perpanjangan Waktu Istirahat: Alasan Iklan?
Tebas juga menyoroti kebiasaan FIFA mengatur jeda minum (hydration break) dan perpanjangan waktu istirahat paruh waktu. Ia menuduh FIFA melakukannya semata-mata untuk kepentingan komersial, khususnya slot iklan. “Jeda minum itu bohong. Di La Liga kami menerapkannya hanya saat cuaca benar-benar panas. Namun di Dallas, Los Angeles, Atlanta stadion berpendingin udara; saya harus pakai jaket di tribun. Itu kebohongan, jeda untuk iklan,” tegasnya.
Ditambah lagi, FIFA memperpanjang jeda paruh waktu menjadi hingga 27 menit di beberapa pertandingan Piala Dunia. Tebas menilai langkah itu semakin mengonfirmasi bahwa FIFA hanya peduli pada pendapatan iklan, bukan esensi olahraga.
Masa Depan Infantino: Siap Dipilih Kembali Tanpa Lawan
Meski Gianni Infantino dikritik dari berbagai pihak, posisinya di FIFA tampak aman. Infantino akan dipilih kembali untuk masa jabatan keempat pada Maret 2025, kemungkinan tanpa lawan — untuk ketiga kalinya berturut-turut. Tebas mengakui bahwa Infantino mendapat dukungan penuh dari federasi-federasi anggota. “Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang mau maju hanya untuk kalah. Sistemnya busuk sampai ke intinya,” keluhnya.
Blatter, yang pernah memimpin FIFA selama 17 tahun sebelum terdepak akibat skandal, menyerukan perubahan sistemik. Ia mengajak semua pemangku kepentingan — fan, pemain, dan asosiasi — untuk merebut kembali kendali sepak bola dari tangan mereka yang dianggap hanya mengejar keuntungan dan politik.
Kesimpulan
Kritik Gianni Infantino dari dua tokoh sepak bola ini semakin mempertajam perdebatan mengenai arah kepemimpinan FIFA. Blatter dan Tebas, meski memiliki latar belakang yang berbeda, sepakat bahwa Infantino telah menyimpang dari misi asli sepak bola. Dengan Pemilihan Presiden FIFA yang akan datang, tekanan publik mungkin belum cukup untuk menggoyahkan kursinya, tetapi gema kritik ini menunjukkan bahwa banyak pihak merasa sudah saatnya perubahan.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Blatter dan Tebas. Namun yang jelas, kritik Gianni Infantino terus bergema, dan masa depan organisasi sepak bola dunia ini masih diselimuti ketidakpastian.
