Goncalo Ramos Siap Hadapi Benfica di Europa League

Written by

in

,

Penyerang AC Milan, Goncalo Ramos, mengaku sangat ingin mencetak gol ke gawang Benfica saat kedua tim bertemu di Europa League. Meski laga ini terasa istimewa karena Benfica adalah klub yang membesarkannya, pemain berusia 25 tahun itu menegaskan dirinya tidak akan merayakan gol bila berhasil menjebol gawang mantan klubnya tersebut.

Goncalo Ramos

Partai ini menjadi laga pembuka kampanye Europa League 2026-27 bagi Milan, dan dimainkan di kandang sendiri melawan wakil Portugal. Bagi Ramos, pertemuan dengan Benfica jauh lebih dari sekadar pertandingan biasa karena ia menghabiskan sebagian besar masa mudanya di sana. Situasi ini juga menjadi ujian menarik bagi pelatih Milan, Ruben Amorim, yang baru menangani tim dan berambisi membawa Rossoneri melangkah jauh di kompetisi Eropa.

Alasan Goncalo Ramos Enggan Selebrasi Lawan Benfica

Ramos menyebut Benfica sebagai “rumah” baginya, sehingga ia memilih untuk tidak merayakan gol andaikan mampu mencetak skor di laga nanti. Ia bahkan mengungkapkan bahwa waktu yang ia habiskan di lingkungan Benfica lebih lama dibandingkan waktu di rumah keluarganya sendiri. Karena itulah, selebrasi justru terasa tidak pantas dilakukan.

Meski demikian, tekadnya untuk mencetak gol tidak berkurang sedikit pun. Ramos menyatakan dirinya pasti ingin mencetak gol, dan bila memungkinkan, lebih dari satu gol dalam pertandingan tersebut. Namun ia menegaskan seluruh ambisi pribadinya tetap berada di bawah kepentingan tim.

Menurutnya, hal terpenting bukanlah siapa yang menjadi bintang atau penentu kemenangan, melainkan hasil akhir yang didapat Milan. Ramos juga menyinggung soal gaya bermainnya yang gemar berlari sebagai bagian dari karakter permainannya. Kerja keras tanpa bola itu, katanya, merupakan permintaan langsung dari sang pelatih sekaligus kebutuhan tim.

Perjalanan Karier Goncalo Ramos dari Benfica ke Milan

Ramos merupakan produk akademi Benfica dan menembus tim senior pada musim 2019-20. Selama memperkuat tim utama di Primeira Liga, ia mencatatkan 64 penampilan dengan torehan 30 gol dan tiga assist. Catatan itu membuat namanya dilirik klub-klub besar Eropa sebelum akhirnya ia pindah ke Paris Saint-Germain dengan nilai transfer yang dilaporkan mencapai 65 juta euro.

Setelah berkarier di Prancis, Ramos bergabung dengan AC Milan pada musim panas ini. Adaptasinya bersama Rossoneri belum sepenuhnya mulus, tercermin dari baru satu gol yang ia cetak dalam empat pertandingan. Karena itu, laga melawan Benfica menjadi momen yang ia tunggu-tunggu untuk kembali menemukan ketajamannya di depan gawang.

Kombinasi antara latar belakang emosional dan kebutuhan menjaga performa membuat pertemuan ini terasa penting bagi Ramos. Ia tidak hanya berhadapan dengan masa lalunya, tetapi juga dengan tuntutan untuk membuktikan diri sebagai ujung tombak baru Milan. Beban ganda itulah yang membuat laga pembuka ini menjadi sorotan tersendiri bagi publik sepak bola Portugal maupun Italia.

Rekor Milan yang Belum Pernah Kalah dari Benfica di Eropa

Secara historis, Milan memiliki catatan yang sangat menguntungkan saat menghadapi Benfica di kompetisi Eropa. Dari enam pertemuan besar sebelumnya, Milan belum pernah kalah dengan rincian empat kemenangan dan dua hasil imbang. Rekor tersebut menjadi modal mental tersendiri bagi tuan rumah menjelang laga nanti.

Dua di antara pertemuan itu bahkan terjadi di partai puncak European Cup, yakni pada 1963 dan 1990, dan keduanya berakhir dengan kemenangan Milan. Fakta ini menegaskan bahwa Benfica bukan lawan yang menakutkan bagi Rossoneri, setidaknya berdasarkan data pertemuan di kompetisi antarklub Eropa.

Menariknya, Benfica tercatat hanya lebih sering gagal menang melawan Bayern Munich dan Inter dibandingkan melawan Milan. Melawan Bayern, Benfica menorehkan tiga hasil imbang dan sepuluh kekalahan, sedangkan melawan Inter mereka mengumpulkan tiga imbang dan empat kekalahan. Sementara melawan Milan, Benfica baru mengoleksi dua imbang dan empat kekalahan, memperlihatkan bahwa catatan buruk mereka kontra Rossoneri memang sudah berlangsung lama.

Misi Ruben Amorim Membawa Milan Melangkah Lebih Jauh

Pelatih Milan, Ruben Amorim, memiliki pengalaman pahit sekaligus berharga di Europa League. Pada musim 2024-25, ia membawa Manchester United melaju hingga partai final sebelum menyerah 1-0 dari Tottenham Hotspur. Kini ia berharap dapat melangkah satu tingkat lebih jauh bersama Milan.

Amorim menegaskan bahwa timnya berada di kompetisi ini dengan tujuan untuk menang, bukan sekadar melengkapi keikutsertaan. Meski begitu, ia mengakui sulit menilai secara pasti apakah Milan masuk dalam jajaran favorit utama turnamen. Menurutnya, ada banyak tim hebat yang semuanya memiliki peluang untuk sampai ke partai final.

Menjelang pertandingan, akun resmi AC Milan turut mengunggah momen sesi latihan terakhir tim pada 15 September 2026. Unggahan itu memperlihatkan persiapan akhir skuad sebelum menjalani laga pembuka fase liga Europa League. Detail kecil ini menunjukkan bahwa Milan berusaha tampil siap secara fisik maupun mental menghadapi Benfica.

Apa Artinya bagi Ramos, Milan, dan Benfica

Bagi Ramos, pertandingan ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ia mampu tampil tajam melawan tim yang paling ia kenal. Satu gol saja bisa menjadi titik balik kepercayaan dirinya setelah awal musim yang belum ideal bersama Milan. Namun ia juga harus menjaga emosi agar tidak mengganggu fokusnya selama pertandingan berlangsung.

Untuk Milan, hasil positif di laga pembuka akan memberi fondasi penting dalam format kompetisi yang menuntut konsistensi. Amorim membutuhkan kemenangan untuk menegaskan arah permainan tim sekaligus memenuhi ekspektasi besar yang menyertai kedatangannya. Sebab, pelatih yang pernah membawa timnya ke final bersama klub lain tentu dinilai berdasarkan seberapa jauh ia bisa membawa Milan di turnamen serupa.

Dari sisi Benfica, pertemuan ini menjadi peluang untuk mematahkan rekor buruk melawan Milan di panggung Eropa. Mereka juga harus menghadapi mantan pemainnya sendiri, yang justru paling memahami kekuatan dan kelemahan klub tersebut. Kombinasi tekanan sejarah dan beban emosional itu membuat laga ini menarik untuk disimak, terlepas dari siapa yang akhirnya keluar sebagai pemenang.

Goncalo Ramos berada di posisi yang tidak biasa: ia ingin mencetak gol ke gawang klub yang ia anggap sebagai rumah, tetapi memilih menahan selebrasi sebagai bentuk penghormatan. Di sisi lain, Milan memiliki modal sejarah yang kuat karena belum pernah kalah dari Benfica di kompetisi Eropa. Ditambah ambisi Amorim untuk melangkah lebih jauh dari pencapaiannya bersama Manchester United, laga pembuka ini menjadi pertemuan yang sarat makna.

Pada akhirnya, bagi Ramos yang terpenting bukanlah siapa yang mencetak gol, melainkan bagaimana Milan keluar sebagai pemenang. Pernyataan itu sekaligus menggambarkan prioritasnya: ambisi pribadi tetap tunduk pada kepentingan tim. Laga nanti akan menjadi jawaban atas semua itu.