Perpisahan Messi menjadi momen yang paling ditunggu dalam agenda sepak bola internasional bulan ini. Lionel Messi menyampaikan pesan perpisahan yang penuh emosi kepada publik Argentina menjelang penampilan terakhirnya bersama tim nasional di Buenos Aires. Laga itu akan menjadi pertandingan ke-208 bagi Messi dengan seragam Albiceleste, jumlah yang tidak pernah dicapai pemain mana pun dalam sejarah Argentina.

Keputusan untuk mengakhiri karier internasional ini bukan hal yang mendadak. Sang bintang sudah menegaskan pada Agustus bahwa ia akan menutup babak panjangnya bersama timnas setelah Argentina kalah 1-0 dari Spanyol di final Piala Dunia pada musim panas lalu. Karena itu, pertandingan di Estadio Monumental bukan sekadar uji coba biasa, melainkan titik akhir sebuah perjalanan yang berlangsung lebih dari dua dekade.
Laga ke-208 dan Perpisahan di Estadio Monumental
Messi dipastikan hanya tampil pada satu pertandingan dari tiga laga yang dijadwalkan Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) pada jeda internasional kali ini. AFA awalnya merilis daftar 28 pemain untuk pertandingan kandang melawan Bolivia, Burkina Faso, dan Benin. Setelah itu dipastikan bahwa Messi hanya akan hadir pada duel melawan Benin di Estadio Monumental, stadion yang menjadi saksi banyak momen penting dalam kariernya.
Angka 208 caps menempatkan Messi sebagai pemain dengan penampilan terbanyak untuk Argentina sepanjang sejarah. Rekor itu bukan hanya soal jumlah pertandingan, tetapi juga soal konsistensi selama lebih dari 20 tahun berada di level tertinggi sepak bola dunia. Tidak ada pemain lain dalam sejarah negara itu yang mampu bertahan selama itu dengan standar performa yang setara.
Selama membela timnas, Messi telah mencetak 125 gol. Jumlah itu membuatnya jauh melampaui Gabriel Batistuta, yang berada di posisi kedua dengan selisih setidaknya 69 gol di bawahnya. Jarak sebesar itu memperlihatkan betapa dominannya kontribusi Messi di lini depan Argentina dibandingkan generasi mana pun sebelumnya.
Perjalanan Sejak 2005 dan Deretan Trofi
Karier internasional Messi dimulai pada 2005 ketika ia masih berusia sangat muda dan belum dianggap sebagai pemain inti. Butuh waktu bagi ia untuk benar-benar menjadi tumpuan tim, dan perjalanan itu tidak selalu mulus karena Argentina beberapa kali gagal di turnamen besar sebelum akhirnya menemukan titik terang. Kesabaran itu berbuah ketika ia mengantar negaranya menjuarai Piala Dunia 2022, gelar yang melengkapi koleksi trofinya bersama timnas.
Selain trofi Piala Dunia, Messi juga mengoleksi dua gelar Copa America dan satu Finalissima selama karier internasionalnya. Kombinasi trofi tim dan rekor individu inilah yang membuat posisinya sulit digantikan, bukan hanya secara teknis tetapi juga secara simbolis bagi identitas sepak bola Argentina.
Keputusan pensiun dari timnas pun terasa logis jika melihat rentang waktunya. Messi kini berusia 39 tahun dan telah bermain di level klub maupun negara selama nyaris dua dekade penuh. Mengakhiri karier internasional tepat setelah gelaran Piala Dunia memberi kesempatan bagi tim untuk memulai transisi tanpa kehilangan momentum kompetitif.
Arti Perpisahan Ini bagi Argentina dan Sepak Bola Dunia
Bagi Argentina, perpisahan Messi menandai berakhirnya satu era yang sangat bergantung pada satu figur utama. Selama bertahun-tahun, hampir setiap taktik dan ekspektasi publik bermuara pada sosoknya, sehingga kepergiannya menuntut perubahan cara tim membangun serangan dan membagi peran di lapangan. Momen ini juga menjadi ujian bagi para pemain generasi berikutnya untuk membuktikan bahwa mereka bisa tetap kompetitif tanpa kehadirannya.
Dari sisi rekor, warisan Messi di Piala Dunia juga sulit ditandingi. Ia menjadi pemain dengan kontribusi gol terbanyak di Piala Dunia dalam catatan yang tersedia sejak 1966, yakni 33 kontribusi yang terdiri atas 21 gol dan 12 assist. Ia juga mencatat penampilan terbanyak di putaran final dengan 34 pertandingan serta tampil pada enam edisi berbeda, jumlah yang setara dengan Cristiano Ronaldo.
Catatan 12 assist Messi di Piala Dunia merupakan yang terbanyak di antara semua pemain. Hanya Kylian Mbappe yang mencetak lebih banyak gol darinya dengan 22 gol, tetapi Messi menjadi pemain pertama yang melampaui rekor 16 gol milik Miroslav Klose pada musim panas lalu. Deretan angka ini menegaskan bahwa perpisahannya bukan hanya soal jumlah laga, melainkan penutup dari salah satu karier paling produktif yang pernah ada di panggung dunia.
Era Baru Argentina Sudah Berjalan
Menariknya, tim nasional Argentina justru menunjukkan performa meyakinkan pada dua laga yang sudah dimainkan di jeda internasional ini. Argentina mengalahkan Bolivia dengan skor 4-0 dan menghancurkan Burkina Faso 7-0, hasil yang memperlihatkan bahwa skuad tidak kehilangan ketajaman meski tanpa Messi di lapangan. Dua kemenangan besar itu memberi gambaran awal tentang bagaimana Argentina akan bermain di masa pasca-Messi.
Hasil tersebut penting karena memberi ruang bagi proses regenerasi untuk berjalan tanpa tekanan berlebihan. Pemain muda bisa mengambil tanggung jawab lebih besar sambil tetap belajar dari standar yang pernah ditetapkan Messi. Jika tren ini berlanjut, transisi bisa berlangsung lebih mulus dibandingkan yang dikhawatirkan banyak pengamat.
Di sisi lain, dukungan publik terhadap Messi tidak berkurang sedikit pun. Akun resmi adidas Football ikut mengunggah pesan emosionalnya, menandakan bahwa perpisahan ini juga menjadi momen global bagi mitra komersial dan penggemar di luar Argentina. Sosoknya kini lebih dari sekadar pemain, tetapi bagian dari narasi besar sepak bola modern.
Pesan Perpisahan dan Maknanya
Sebelum laga terakhirnya, Messi menyampaikan penghormatan khusus kepada para pendukung Argentina. Pesannya menegaskan bahwa ia pergi tanpa penyesalan karena telah memberikan seluruh kemampuannya untuk seragam kebanggaan negaranya.
“Momennya telah tiba. Saya pergi dengan tenang. Saya memberikan segalanya. Kaus ini adalah mimpi, kebanggaan, dan hidup saya selama bertahun-tahun,” ujar Messi. Ia menambahkan, “Terima kasih telah mencintai saya begitu besar, terima kasih atas dukungan kalian. Saya akan selalu membawa kalian dalam diri saya.”
Kalimat-kalimat itu menjelaskan mengapa perpisahan ini terasa lebih personal dibandingkan sekadar pengumuman pensiun. Messi tidak berbicara tentang statistik atau trofi, melainkan tentang hubungan emosional yang ia bangun dengan publik Argentina selama bertahun-tahun, termasuk saat ia sempat mendapat kritik keras di awal karier internasionalnya.
Penutup
Perpisahan Messi dari tim nasional Argentina adalah penutup dari karier internasional yang nyaris tidak tertandingi: 208 caps, 125 gol, gelar Piala Dunia 2022, dua Copa America, dan satu Finalissima. Pertandingan melawan Benin di Estadio Monumental akan menjadi laga terakhirnya, sekaligus titik awal bagi Argentina untuk melangkah tanpa sosok yang selama ini menjadi pusat perhatian. Dua kemenangan besar atas Bolivia dan Burkina Faso menunjukkan bahwa transisi sudah dimulai, meski bayangan Messi akan tetap hadir lama dalam ingatan para penggemar.
