Timnas Skotlandia Dihajar Slovenia, Pocognoli Dikritik

Written by

in

,

Timnas Skotlandia menutup laga melawan Slovenia dengan kekalahan 1-2 di Hampden Park, sebuah hasil yang membuat posisi mereka di Grup Nations League goyah. Pasukan asuhan Sebastien Pocognoli tampil jauh dari standar sepanjang malam, dan suasana di stadion berubah dari harapan menjadi kekecewaan yang terasa pekat.

Bagi Pocognoli, ini adalah pukulan pertamanya sebagai pelatih kepala. Ia baru menangani tim ini dan belum lama mendapat pujian atas gaya menyerang yang dianggap lebih segar dibanding era sebelumnya. Namun malam di Glasgow menunjukkan bahwa perjalanan menuju stabilitas masih jauh lebih panjang dari yang ia perkirakan.

Timnas Skotlandia

Skotlandia Tenggelam di Hampden, Slovenia Lebih Tajam

Masalah sudah muncul sejak menit ke-13. Slovenia berhasil masuk ke belakang lini pertahanan Skotlandia, dan tembakan Adam Cerin hanya bisa diblok Jack Hendry. Sinyal bahaya itu tidak pernah benar-benar ditanggapi dengan perbaikan struktur, sehingga tuan rumah terus terlihat gelisah setiap kali bola berpindah ke kaki pemain Slovenia.

Ryan Christie sempat membuka keunggulan dan membangunkan penonton di Hampden. Namun gol itu ternyata hanya mengisi jeda sesaat, karena Skotlandia kembali kehilangan momentum dan membiarkan Slovenia menguasai ritme permainan. Stadion yang semula bersemangat berubah sunyi, seakan menyadari bahwa keunggulan tersebut rapuh.

Tekanan terhadap lini belakang berlanjut tak lama setelahnya. Andy Robertson harus menjatuhkan diri untuk menghalau tembakan jarak dekat Zan Vipotnik setelah Hendry terlambat membaca situasi. Slovenia bermain cerdas, kreatif, dan menurut banyak penilaian seharusnya menang dengan margin yang lebih besar.

Formasi Tiga Bek yang Diuji dan Perubahan yang Terburu-buru

Pocognoli dikenal sebagai penganut formasi tiga bek. Pertanyaan yang mengemuka sejak awal adalah seberapa kaku ia memegang prinsip itu, apakah ia seorang ideolog yang bersikeras, atau pelatih yang mampu mengubah pendekatan saat keadaan menuntut.

Jawabannya terlihat di paruh kedua. Ia memang mengubah formasi dan komposisi pemain, tetapi perubahan itu datang tidak dari perencanaan matang, melainkan dari desakan situasi setelah Skotlandia tertinggal. Pada kedudukan 1-1 dan kemudian 1-2, ia melontarkan penyerang dan pemain sayap ke lapangan dalam upaya mencuri satu poin.

Upaya tersebut terkesan sembarangan dan berantakan. Skotlandia nyaris tidak pernah menemukan pola yang jelas, dan ruang kosong yang lebar tetap terbuka baik di sisi luar maupun di tengah lapangan. Slovenia dengan senang hati memanfaatkan celah itu sepanjang pertandingan.

Dua Gol Slovenia dan Rangkaian Kesalahan Individu

Gol penyama kedudukan Aljosa Matko justru berawal dari lemparan ke dalam milik Skotlandia, sebuah detail yang menyoroti betapa lemahnya penguasaan bola tuan rumah dalam momen transisi. Tiga menit kemudian, Danielj Sturm nyaris mencetak gol kedua, dan peluang itu muncul karena Ben Gannon-Doak tertinggal jauh di depan tanpa menyadari bahaya yang sedang datang.

Angus Gunn sebagai penjaga gawang pun tidak tampil tanpa cela dalam situasi tersebut. Ada satu momen ketika Skotlandia mengira telah tertinggal 1-2, tetapi gol itu dianulir dengan benar karena offside. Proses terjadinya peluang itu tetap memperlihatkan persoalan yang sama: Skotlandia kalah dalam duel udara beruntun, dan pertahanan mereka tampak terlalu lunak.

Gol kedua Slovenia akhirnya datang seperti yang sudah banyak diperkirakan. Matko berlari di sisi kanan dan mengirim umpan ke Sturm yang dengan mudah menyelesaikannya, sementara Luis Binks kali ini menjadi pemain yang terlewat dalam pengawalan. Dua gol yang lahir dari situasi sederhana itu cukup menggambarkan rapuhnya lini belakang Skotlandia malam itu.

Dampak pada Peluang Finis Kedua dan Seeding Piala Eropa

Kekalahan ini berdampak jauh melampaui kekecewaan satu malam dingin di Glasgow. Skotlandia sedang memburu posisi kedua di grup Nations League, posisi yang akan memberi mereka status unggulan pot dua pada undian Piala Eropa Desember mendatang. Peluang itu kini berada dalam bahaya nyata.

Bagi Pocognoli, ini malam yang merusak dalam banyak hal. Ia kemungkinan besar mengira sudah berada lebih jauh dalam proses pembangunan tim daripada kenyataan yang terlihat di lapangan. Raut kekecewaan dirinya dan sang kapten di akhir pertandingan sulit disembunyikan, dan nuansa itu mengingatkan pada masa-masa kelam di era Steve Clarke.

Meski ada banyak ruang kosong di tribun Hampden, penonton yang tersisa tetap cukup banyak untuk menyampaikan penilaian mereka secara gamblang. Sorakan dan reaksi mereka di akhir laga menjadi cermin betapa mengecewakannya penampilan yang mereka saksikan.

Kritik terhadap Penampilan dan Agenda Berat pada November

Sebelum laga ini, ada optimisme soal energi tim dan peluang yang diciptakan, serta gaya menyerang yang dianggap lebih hidup dibanding pendekatan Clarke yang dinilai monoton. Semua modal itu terkikis habis dalam satu malam. Yang paling menyakitkan bukan sekadar kekalahan, melainkan cara tim ini kalah: lemas dan tanpa gairah untuk waktu yang terlalu lama.

Gannon-Doak tampil baik sebagai wing-back saat melawan Makedonia Utara, tetapi lawan kali ini adalah Slovenia, bukan tim yang sama. Pemain muda itu menjadi sasaran dan terekspos di posisi yang belum ia kuasai, sementara secara ofensif ia nyaris tidak berdaya. Lini belakang tiga yang sebelumnya tampak mengesankan kali ini diganggu hingga kehilangan ketenangan, dan para pemimpin tim tidak mampu memimpin.

Robertson menyebut timnya kalah dalam hal pertarungan, sebuah komentar yang sangat berarti. Sebab, bertarung adalah bagian paling mudah untuk dibenahi dan tidak menuntut bakat istimewa. Pertandingan di Skopje sebelumnya terasa mudah karena Makedonia Utara memang lemah, dan Skotlandia mencetak dua gol meski berpeluang mencetak lima atau enam.

Pocognoli jelas membutuhkan waktu. Ia juga memerlukan Scott McTominay, gelandang serang paling berbahaya miliknya, berada di jantung permainan, serta lebih banyak sesi latihan untuk menanamkan idenya kepada para pemain. November menjadi kesempatan berikutnya dengan lawatan ke Swiss dan laga kandang melawan Makedonia Utara, dan kini tidak ada ruang untuk kesalahan lagi.

Skotlandia sebenarnya punya peluang besar mengumpulkan tujuh poin dari empat pertandingan, tetapi peluang itu terbuang. Pelatih kepala harus merawat luka setelah malam ini, dan ia tentu belajar banyak tentang karakter pemainnya. Masa bulan madu kini sudah berakhir, dan reaksi penonton Hampden di akhir laga menjadi tanda bahwa pertengkaran pertama dalam rumah tangga baru itu telah terjadi.