Alexander Zverev Juara US Open, Klaim Terbaik Dunia

Written by

in

,

Alexander Zverev juara US Open usai menaklukkan Ben Shelton di partai final, dan ia langsung menyatakan bahwa dirinya kini layak disebut sebagai petenis terbaik di dunia. Petenis Jerman berusia 29 tahun itu memetik kemenangan 6-3, 7-6 (7-2), 5-7, 6-2 atas wakil tuan rumah, sekaligus mematahkan harapan penonton New York yang mendambakan juara tunggal putra Amerika Serikat.

Alexander Zverev

Gelar ini menegaskan dominasi Zverev di sepanjang musim Grand Slam 2026. Dua rival terberatnya justru berkutat dengan masalah kebugaran: Carlos Alcaraz, yang menjuarai Australian Open, tersingkir di perempat final US Open setelah kalah dari Shelton akibat baru pulih dari cedera panjang, sedangkan Jannik Sinner yang berstatus petenis nomor satu dunia mundur sebelum turnamen bergulir karena cedera usai menjuarai Wimbledon.

Alexander Zverev Juara US Open Usai Tekuk Shelton

Bagi Zverev, laga puncak di New York itu merupakan final Grand Slam keenam dalam kariernya. Shelton, sebaliknya, baru pertama kali menembus partai final turnamen mayor. Perbedaan pengalaman itu tampak nyata sepanjang pertandingan, terutama ketika Zverev tampil lebih tenang di momen-momen krusial dan menuntaskan laga dalam empat set.

Hasil ini sekaligus mengakhiri penantian panjang Amerika Serikat yang belum lagi melahirkan juara tunggal putra Grand Slam sejak Andy Roddick pada 2003. Kekalahan Shelton tentu menjadi pukulan bagi publik tuan rumah, tetapi perjalanannya hingga ke final tetap menjadi pencapaian tersendiri di tengah upaya panjang pembinaan tenis Amerika.

Momen Zverev Tak Sadar Dirinya Juara

Fokus Zverev pada pertandingan berlangsung begitu total sehingga ia bahkan tidak menyadari telah memenangi gelar saat Shelton mengembalikan servis terlalu jauh. Ketika wasit mengumumkan “game, set, and match” untuk Zverev, ia justru berjalan kembali ke garis dasar lapangan, bersiap menerima servis berikutnya. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari mengapa para penonton berdiri memberi tepuk tangan, sebelum akhirnya tersenyum dan berlari ke net untuk memeluk Shelton.

Kepada Sky Sports Tennis, Zverev mengaku sempat mengira kedudukan masih 5-1. Ia mengetahui telah dua kali mematahkan servis lawan, tetapi mengira Shelton hanya sekali mempertahankan servisnya. “Saya pikir saya akan menjalani gim servis yang santai di sini, lalu akan gugup di gim berikutnya. Ternyata keberuntungan berpihak pada saya,” ujarnya.

Zverev menambahkan bahwa momen tersebut terasa lucu bagi dirinya. Menurutnya, para pelatih tenis selalu mengajarkan agar pemain fokus pada setiap poin dan melupakan skor. “Nah, saya melupakan skornya dan itu justru membantu saya,” katanya.

Latar Belakang Musim Grand Slam 2026

Sepanjang musim 2026, Zverev tampil sebagai pemain paling konsisten di ajang Grand Slam dengan catatan 25 kemenangan dan hanya dua kekalahan. Ia akhirnya menembus gelar mayor pertamanya di French Open, lalu melaju ke final di All England Club, meski harus mengakui keunggulan Sinner.

Situasi tersebut membuat posisi Zverev di puncak tidak lepas dari kondisi para rivalnya. Alcaraz absen sekitar empat bulan karena cedera sebelum kembali ke lapangan, sementara Sinner memilih mundur dari US Open karena alasan serupa. Kedua hal itu membuka jalan lebih lebar bagi Zverev untuk meraih gelar di New York.

Klaim Zverev sebagai Petenis Terbaik Dunia

Zverev tidak menampik bahwa kondisi saat ini menempatkannya sebagai pesaing terkuat. Namun, ia menegaskan klaim tersebut harus dilihat dalam konteks yang lengkap, bukan sekadar hasil dari satu turnamen. “Kamu harus mempertimbangkan segalanya. Dengan Sinner yang cedera dan Alcaraz yang baru kembali setelah empat bulan, untuk saat ini, mungkin benar,” ujarnya.

Meski begitu, Zverev jujur mengakui bahwa situasinya bisa berbeda jika semua pemain top dalam kondisi prima. Ia menyebut bahwa ketika Sinner dan Alcaraz sama-sama sehat dan tampil dalam performa terbaik, posisinya belum tentu unggul. “Empat, lima bulan lalu ketika keduanya sehat, saya bukan yang terbaik. Saya selalu kalah dari Jannik,” katanya.

Karena itu, Zverev menilai Sinner masih berada di depan jika seluruh pemain berada dalam kondisi fit. Pernyataan ini menunjukkan bahwa klaimnya sebagai petenis terbaik dunia lebih bersifat kontekstual, yaitu mencerminkan kondisi aktual saat para rival utamanya tengah berjuang melawan cedera.

Harapan Shelton dan Kebangkitan Tenis Amerika

Di sisi lain, Shelton menyatakan keinginannya untuk kembali merasakan atmosfer pertandingan puncak di panggung terbesar tenis. Menurutnya, melangkah ke lapangan di partai final menghadirkan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Sensasi berada di posisi seperti ini terasa seperti sebuah kecanduan,” kata petenis berusia 23 tahun itu.

Perjalanan Shelton ke final juga menjadi tonggak sejarah karena ia merupakan pria kulit hitam Amerika Serikat pertama yang tampil di final tunggal putra New York dalam 54 tahun, sejak Arthur Ashe, nama yang diabadikan sebagai lapangan utama turnamen ini. USTA sebelumnya menyoroti kampanye Taylor Fritz pada 2024 sebagai tanda kemajuan, setelah pada 2008 mengumumkan perombakan besar terhadap program pembinaan pemain.

Badan pengurus tenis nasional Amerika Serikat itu juga berupaya memperluas bakat melalui kerja sama dengan American Tennis Association yang diumumkan tahun lalu, dengan fokus membangun representasi pemain kulit hitam di cabang olahraga yang selama ini didominasi pemain kulit putih. Shelton pun mengaku masih jauh dari versi terbaik dirinya. “Saya rasa saya bukan pemain yang saya inginkan saat ini. Saya hanya pesaing yang baik,” ujarnya.

Analisis Tim Henman

Mantan petenis yang mencapai semifinal US Open 2004, Tim Henman, menyoroti kegigihan dan perkembangan permainan Zverev selama 12 bulan terakhir. Ia menilai hasil-hasil Zverev di ajang Grand Slam sebelumnya sempat menunjukkan kemunduran, tetapi kini petenis Jerman itu berhasil bertransformasi menjadi lebih agresif.

Henman juga menyoroti rekor pertemuan kedua pemain, di mana Zverev telah mengalahkan Shelton lima kali secara beruntun. Menurutnya, Shelton perlu mengubah catatan tersebut, namun Zverev tampil begitu nyaman di lapangan. Meski Shelton berhasil merebut set ketiga, kehilangan servis di gim pertama set keempat justru menenangkan Zverev dan memberinya tambahan energi hingga finis dengan mulus.

Kemenangan di US Open menegaskan posisi Zverev sebagai salah satu kekuatan utama tenis dunia saat ini, terlebih dengan catatan 25-2 di Grand Slam sepanjang 2026. Meski begitu, klaimnya sebagai petenis terbaik tetap bergantung pada kondisi para rival, terutama Sinner dan Alcaraz, yang diyakini masih lebih unggul ketika berada dalam performa puncak.

Sementara itu, perjalanan Shelton hingga ke final memberi harapan baru bagi tenis Amerika Serikat yang tengah berbenah. Bagi para penggemar, Laver Cup di The O2 London pada 25-27 September mendatang akan menjadi ajang berikutnya untuk menyaksikan para petenis top dunia beraksi.