Debut Van Bommel: Belgia dan Italia Senasib Nations League

Written by

in

,

Mark van Bommel akan menjalani debut sebagai pelatih timnas Belgia saat De Rode Duivels bertandang ke Stadio Olimpico untuk menghadapi Italia pada laga pembuka UEFA Nations League, Jumat. Menurut Van Bommel, situasi yang dihadapinya tidak jauh berbeda dengan situasi sang lawan, karena kedua tim sama-sama sedang membangun era baru bersama pelatih yang baru saja duduk di kursi panas masing-masing.

Van Bommel

Partai di Roma itu menjadi penampilan pertama Belgia sejak tersingkir di perempat final Piala Dunia terakhir. Bagi Van Bommel, ini adalah pekerjaan keempatnya sebagai pelatih dan yang pertama sejak dua tahun menangani Royal Antwerp di Liga Pro Belgia pada 2022-2024. Ia juga tercatat sebagai orang Belanda pertama yang memimpin Belgia sejak Dick Advocaat pada 2009, sebuah catatan yang menegaskan betapa besar perubahan yang tengah terjadi di tubuh tim nasional Belgia.

Debut Van Bommel Langsung Berhadapan dengan Italia

Belgia memulai kampanye Nations League mereka dengan lawatan ke markas Italia, Stadio Olimpico, pada Jumat. Dalam grup ini, Belgia juga harus menghadapi Prancis dalam dua pertemuan kandang dan tandang, serta Turkiye, sehingga tidak ada laga yang bisa dianggap ringan sejak awal. Van Bommel sendiri mengakui bahwa jadwal seketat itu membuatnya tak punya ruang untuk sekadar mencoba-coba.

Meski begitu, pelatih berusia 49 tahun itu menilai tekanan yang sama juga dirasakan Italia. Azzurri kini diasuh kembali oleh Roberto Mancini, yang memulai periode keduanya setelah menggantikan Gennaro Gattuso menyusul kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Artinya, kedua tim melangkah ke laga ini dengan pelatih yang belum benar-benar memiliki waktu membangun kesebelasan sesuai keinginan mereka.

“Kami berada di Nations League bersama Italia, Prancis, dan Turkiye, jadi tidak ada waktu untuk bereksperimen, tetapi Italia berada dalam situasi yang sama seperti kami,” ujar Van Bommel. Pernyataan itu menegaskan bahwa ia tidak melihat Belgia berada di posisi yang lebih sulit dibanding Italia, melainkan sama-sama berada di titik transisi. Akun resmi Belgia pun mengunggah pesan singkat “Focused on Friday” sebagai penanda fokus mereka menuju laga tersebut.

Skuad 25 Pemain: De Bruyne Bertahan, Courtois dan Doku Absen

Untuk rangkaian laga melawan Italia, Prancis, dan Turkiye, Van Bommel memanggil 25 pemain. Sejumlah nama utama tetap ada, tetapi beberapa sosok penting justru harus absen karena berbagai alasan. Thibaut Courtois tidak tersedia setelah meminta izin untuk tidak memperkuat tim pada laga-laga ini, sementara Jeremy Doku, Amadou Onana, Alexis Saelemaekers, dan Thomas Meunier juga tidak masuk dalam daftar.

Di sisi lain, Van Bommel memilih memberi ruang kepada empat pemain yang belum pernah memperkuat tim senior. Ketiga di antaranya adalah penjaga gawang Jari De Busser, Mike Penders, dan Maarten Vandevoordt, ditambah bek muda Kyriani Sabbe. Keputusan ini menunjukkan bahwa debutnya bukan hanya soal hasil jangka pendek, tetapi juga awal regenerasi skuad yang akan ia bangun.

Kevin De Bruyne tetap dibawa meski kebugarannya bersama Napoli tengah dipertanyakan, dengan laporan menyebut Van Bommel sampai terbang ke Italia untuk meyakinkan sang gelandang agar tetap menjadi bagian dari proyek tim nasional. Kehadiran pemain sekaliber De Bruyne jelas bernilai besar bagi proses adaptasi tim yang baru. Van Bommel menyadari hal itu dan menekankan pentingnya menyeimbangkan pengalaman dengan energi para pemain muda.

“Kevin, Lukaku, Tielemans, De Ketelaere, kami punya beberapa pemain dengan banyak pengalaman, yang lain bermain di Serie A, jadi bagus bahwa kami bisa beradaptasi dengan sepak bola Italia,” kata Van Bommel. Menurutnya, para pemain senior itu punya peran ganda: menjadi pemimpin di lapangan sekaligus membantu rekan-rekan yang lebih muda beradaptasi dengan level pertandingan internasional.

Mengapa Kursi Pelatih Belgia Kembali Berganti

Pergantian ini merupakan perubahan pelatih ketiga bagi Belgia dalam tiga tahun terakhir. Rudi Garcia dipecat setelah Piala Dunia, ketika Belgia tampil meyakinkan di fase grup tetapi harus mengakui keunggulan Spanyol di perempat final. Kekalahan dramatis di akhir laga dari tim yang akhirnya menjuarai turnamen itu menjadi titik berakhirnya masa jabatan Garcia.

Secara statistik, catatan Garcia sebenarnya tidak buruk. Ia menangani 20 laga dengan rapor 12 kemenangan, 6 hasil imbang, dan 2 kekalahan, atau tingkat kemenangan 60 persen. Namun, bagi federasi Belgia, capaian itu dinilai belum cukup membawa De Rode Duivels melewati batas yang selama ini menghantui mereka di babak gugur.

Catatan itu memperlihatkan masalah yang lebih dalam. Tidak termasuk laga play-off peringkat ketiga, Belgia kini tersingkir dari empat laga fase gugur Piala Dunia terakhir mereka melawan sesama negara UEFA, sejak terakhir kali mengalahkan Spanyol lewat adu penalti di perempat final 1986. Angka ini menjelaskan mengapa pergantian pelatih terus terjadi: persoalan Belgia bukan semata soal fase grup, melainkan soal kemampuan bertahan di laga-laga besar.

Van Bommel datang dengan rekannya yang cukup meyakinkan. Di Royal Antwerp, ia memenangi 57 dari 107 pertandingan di semua kompetisi, dengan 21 imbang dan 29 kalah, rata-rata 1,79 poin per laga, serta tingkat kemenangan 51,4 persen. Ia juga mengoleksi tiga gelar mayor selama periode tersebut, modal yang membuat federasi Belgia memilihnya sebagai pemimpin baru.

Taktik 4-3-3 dan Ketidakpastian di Kubu Italia

Van Bommel sudah menyebut akan memakai formasi 4-3-3 melawan Italia. Gaya yang ia inginkan cukup jelas: menguasai bola, dan bila kehilangan bola, merebutnya kembali secepat mungkin. Namun, ia mengakui bahwa membangun cara bermain seperti itu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, terutama ketika tim baru saja memulai era baru.

“Tidak mudah menyiapkan tim dalam empat hari. Kami menggelar beberapa pertemuan dengan para pemain untuk menjelaskan apa yang ingin kami lakukan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa timnya ingin mendominasi pertandingan, tetapi menyadari bahwa hal itu tidak datang secara instan. Karena itu, pertemuan taktik dan penjelasan konsep menjadi bagian penting dari persiapan singkat tersebut.

Kesulitan lain datang dari sisi lawan. Van Bommel mengaku sulit memprediksi apa yang akan dilakukan Mancini, karena pelatih Italia itu belum tentu menerapkan pendekatan yang sama seperti pada periode pertamanya di Azzurri. Ia mengenal baik gaya sepak bola Gattuso yang menangani Italia musim lalu, tetapi situasinya kini berbeda karena Mancini memegang kendali.

“Sulit untuk bersiap, karena Anda tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Gattuso adalah pelatih musim lalu. Saya mengenal Rino dan gaya sepak bolanya,” ujar Van Bommel. Ia juga menegaskan bahwa laga ini tidak akan mudah bagi Italia, dan menduga mereka bisa saja memakai formasi 4-3-3, meski ia memilih menunggu untuk melihatnya langsung di lapangan.

Peta Grup dan Arti Laga Ini bagi Kedua Tim

Komposisi grup membuat Nations League edisi ini langsung menguji kedalaman skuad Belgia. Selain Italia, ada Prancis yang harus dihadapi dua kali dan Turkiye yang bukan lawan mudah. Dengan format seperti itu, kesalahan di laga pembuka bisa berdampak panjang pada posisi Belgia di klasemen grup, terutama karena tidak ada lagi laga uji coba yang bisa dijadikan ajang pematangan.

Bagi Van Bommel, laga di Olimpico juga menjadi ujian pertama soal bagaimana ia mengelola skuad yang tidak lengkap. Tanpa Courtois, Doku, Onana, Saelemaekers, dan Meunier, ia harus meracik komposisi yang bisa bersaing menghadapi tim sekelas Italia di kandang mereka sendiri. Keputusan memanggil empat pemain tanpa caps memperlihatkan bahwa ia bersedia mengambil risiko demi membangun kedalaman tim dalam jangka panjang.

Di sisi Italia, kembalinya Mancini membuat laga ini sama-sama penting. Setelah gagal lolos ke Piala Dunia tiga kali berturut-turut, Azzurri membutuhkan awal yang meyakinkan untuk mengembalikan kepercayaan publik. Karena itu, meski kedua pelatih baru saja mulai bekerja, laga Jumat malam bukan sekadar pemanasan, melainkan penentu nada bagi perjalanan kedua tim di kompetisi ini.

Kesimpulan

Debut Van Bommel bersama Belgia berlangsung dalam kondisi yang jauh dari ideal: waktu persiapan hanya empat hari, beberapa pemain inti absen, dan lawan yang dihadapi juga tengah memasuki era baru. Meski demikian, ia memilih melihat situasi itu secara realistis, dengan menegaskan bahwa Italia menghadapi persoalan serupa. Fokusnya jelas, yaitu menanamkan gaya bermain yang menguasai bola dan agresif merebutnya kembali, meski ia sadar proses itu butuh waktu.

Hasil di Stadio Olimpico nanti akan menjadi petunjuk awal seberapa cepat Belgia mampu beradaptasi dengan ide baru Van Bommel. Dengan Prancis dan Turkiye menanti di laga-laga berikutnya, tidak ada masa tenang untuk bereksperimen. Apa pun hasilnya, laga Jumat menjadi titik awal babak baru bagi De Rode Duivels sekaligus ujian pertama bagi pelatih berkebangsaan Belanda itu.