Joshua Kimmich mengaku sebenarnya ingin tetap berada di kamp Timnas Jerman sepanjang jeda internasional kali ini. Meski begitu, ia dapat memahami alasan Jurgen Klopp memanggil dua skuad sekaligus dalam satu periode pertandingan. Pernyataan itu ia sampaikan setelah Jerman menelan kekalahan mengejutkan dari Yunani pada laga terakhir mereka.
Kimmich bukan pemain sembarangan dalam skuad karena ia dipercaya menyandang ban kapten. Namun, status tersebut tidak membuatnya otomatis masuk daftar pemain yang melanjutkan rangkaian pertandingan. Situasi ini muncul karena Klopp, pada laga-laga pertamanya sebagai pelatih, memang ingin melihat sebanyak mungkin pemain sebelum mengambil keputusan lebih jauh.

Joshua Kimmich Ingin Bertahan, tetapi Paham Keinginan Klopp
Dalam keterangannya usai kekalahan dari Yunani, Kimmich mengaku berat meninggalkan kamp Timnas Jerman lebih cepat. “Saya sebenarnya ingin tinggal, tetapi saya juga paham bahwa pelatih ingin mengenal beberapa pemain lain,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan hal yang mengejutkan bagi dirinya.
Menurut Kimmich, rotasi skuad sudah menjadi rencana sejak awal pertemuan. “Itu sudah menjadi rencana sejak awal: kami akan merotasi skuad,” katanya. Karena itu, ia menerima keputusan untuk tidak lagi berada di dalam skuad dan memilih mendukung rekan-rekannya dari rumah.
Yang menarik, Kimmich tetap tidak termasuk dalam daftar pemain yang melanjutkan tugas meski berstatus kapten tim. Jerman masih menyisakan dua pertandingan, yaitu melawan Serbia dan Yunani, dan ia harus menyaksikannya dari jauh. Posisi itu setidaknya menunjukkan bahwa rotasi yang diterapkan Klopp tidak memandang status pemain.
Strategi Dua Skuad di Awal Era Klopp
Pada laga-laga pertamanya memimpin Jerman, Klopp memilih pendekatan yang tidak biasa dengan memanggil 44 pemain sekaligus. Para pemain itu dibagi ke dalam dua skuad agar ia bisa meninjau sebanyak mungkin opsi selama jeda internasional yang panjang. Tujuannya jelas, yakni mengenal karakter dan kualitas pemain secara langsung, bukan hanya lewat rekaman pertandingan.
Dari skuad pertama, enam pemain tetap dipertahankan untuk bergabung dengan skuad kedua. Mereka adalah Finn Dahmen, Nico Schlotterbeck, Philipp Treu, Yannik Engelhardt, Bambase Conte, dan Serge Gnabry. Keenam nama itu mendapat kesempatan tambahan untuk membuktikan kemampuan pada dua laga berikutnya.
Ada pula perubahan yang terjadi karena faktor cedera. Florian Wirtz dan Jonathan Burkardt sebenarnya dipanggil untuk skuad kedua, tetapi mereka datang lebih awal untuk menggantikan Kai Havertz dan Jamal Musiala yang harus menepi. Situasi ini menambah dinamika tersendiri dalam skuad yang sedang dibangun Klopp.
Dua Laga Awal Tanpa Kemenangan
Hasil di lapangan belum berpihak kepada Klopp. Jerman harus puas bermain imbang 1-1 melawan Belanda setelah kebobolan gol penyama kedudukan di menit-menit akhir pertandingan. Pada laga berikutnya, mereka kalah 1-0 dari Yunani dalam pertandingan yang digelar Minggu.
Dengan demikian, Klopp belum meraih satu pun kemenangan dari dua pertandingan pertamanya bersama Jerman. Catatannya adalah satu hasil imbang dan satu kekalahan dari dua laga tersebut. Kekalahan dari Yunani tentu menambah beban, mengingat Jerman berada di posisi yang lebih diunggulkan.
Apa Artinya bagi Klopp dan Timnas Jerman
Bagi Klopp, dua laga tanpa kemenangan menjadi catatan yang kurang nyaman di awal masa kerjanya. Menguji sebanyak mungkin pemain memang bagian dari rencana, tetapi hasil pertandingan tetap menjadi ukuran yang dipakai publik untuk menilai. Kombinasi antara eksperimen skuad dan tuntutan hasil inilah yang membuat posisinya menarik dicermati pada laga-laga selanjutnya.
Bagi para pemain, khususnya yang berada di skuad kedua, dua pertandingan sisa adalah peluang berharga. Kesempatan tampil bisa menentukan apakah mereka masuk dalam rencana jangka panjang atau sekadar menjadi bagian dari proses seleksi awal. Sebaliknya, pemain yang tidak dilanjutkan seperti Kimmich mendapat waktu istirahat lebih panjang, tetapi juga harus bersaing kembali saat pemanggilan berikutnya.
Bagi penggemar, situasi ini memberi gambaran bagaimana sebuah tim besar menjalani masa transisi. Rotasi besar-besaran dengan memanggil dua skuad sekaligus jarang dilakukan, sehingga keputusan Klopp memperlihatkan arah permainan yang ingin ia bangun. Hasil di dua laga berikutnya akan menjadi indikator awal apakah pendekatan tersebut berjalan sesuai harapan.
Preseden Herberger, Schön, dan Laga Berikutnya
Catatan tanpa kemenangan di dua laga pertama bukan hal yang belum pernah terjadi di Jerman. Klopp menjadi pelatih kepala Jerman ketiga yang mengalaminya, setelah Sepp Herberger dan Helmut Schön. Keduanya kemudian tercatat sebagai pelatih yang membawa Jerman menjuarai Piala Dunia, dan keduanya juga memenangi pertandingan internasional ketiga mereka.
Preseden itu memberi sedikit kelegaan, tetapi sekaligus menegaskan bahwa laga ketiga akan menjadi sorotan. Jerman dijadwalkan menjamu Serbia di kandang pada hari Kamis. Setelah itu, mereka menutup rangkaian pertandingan ini dengan bertandang ke Yunani pada 4 Oktober.
Dua laga tersebut sekaligus menjadi ujian bagi rotasi yang dijalankan Klopp, termasuk bagi para pemain yang bertahan dari skuad pertama. Jika hasilnya membaik, pendekatan dua skuad akan dianggap sebagai langkah awal yang wajar dalam membangun tim. Sebaliknya, jika hasilnya kembali buruk, tekanan menjelang pertandingan berikutnya akan semakin besar.
Kimmich memang tidak akan berada di lapangan saat Jerman menyelesaikan dua laga terakhirnya, tetapi ia menegaskan akan mendukung tim dari rumah. Sikapnya menunjukkan bahwa keputusan rotasi diterima sebagai bagian dari proses, meskipun secara pribadi ia lebih suka bertahan lebih lama. Sementara itu, Klopp masih menunggu kemenangan pertamanya bersama Timnas Jerman.
Laga melawan Serbia dan Yunani akan menentukan bagaimana periode awal Klopp dinilai. Apakah rotasi dua skuad terbukti efektif atau justru memunculkan pertanyaan baru, jawabannya baru akan terlihat dalam waktu dekat.
