Eva Olid Manchester United: Transformasi 10 Pekan Pertama

Written by

in

,

Eva Olid Manchester United menjadi salah satu kisah paling menarik di awal musim Liga Super Wanita (WSL). Sepuluh pekan sudah berlalu sejak pelatih berusia 41 tahun itu resmi ditunjuk menangani tim putri Manchester United, sebuah keputusan yang cukup mengejutkan pada awal Agustus menyusul kepergian Marc Skinner. Ia tiba di salah satu klub terbesar di Inggris hanya sekitar sebulan sebelum kompetisi bergulir, sehingga waktu untuk beradaptasi nyaris tidak ada.

Eva Olid

Yang membuat kisah ini kian layak disimak adalah latar belakangnya. Di Inggris, nama Eva Olid terbilang jarang terdengar, padahal ia meninggalkan jejak luar biasa di Skotlandia bersama Hearts: membawa klub itu dari dasar klasemen menjadi juara liga utama Skotlandia dalam rentang lima tahun. Kini ia harus membuktikan bahwa kesuksesan serupa bisa diulang di klub sekaliber Manchester United, dengan tekanan, ekspektasi, dan sorotan yang jauh lebih besar.

Siapa Eva Olid, Pelatih Baru Manchester United

Pertemuan dengan Olid berlangsung di sebuah kedai kopi di Manchester, sebuah pilihan tempat yang terasa ironis karena ia sendiri tidak minum kopi. Momen itu menjadi jeda pertama yang benar-benar ia rasakan setelah berminggu-minggu menjalani jadwal padat, yang membuatnya belum sempat mengenal kota yang kini ia sebut rumah. “Semuanya baik, tapi benar-benar sibuk. Rasanya hanya kerja, pulang, kerja, pulang,” ujarnya kepada BBC Sport.

Kesibukan itu masuk akal. Begitu tiba di markas latihan Carrington, prioritas pertama Olid bukanlah taktik atau strategi, melainkan memperkenalkan dirinya kepada para pemain. Ia menunjukkan rekam jejaknya di masa lalu dan berusaha tampil apa adanya sejak detik pertama. “Saya berusaha menjadi diri sendiri sejak awal. Saya menunjukkan bahwa saya adalah manusia sebelum menjadi pelatih,” katanya.

Ia sadar tidak punya banyak waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Karena itu, ia langsung menyampaikan cara pandangnya terhadap sepak bola, menekankan pentingnya kerja keras, dan menegaskan komitmennya untuk hadir bagi para pemain serta membuat mereka berkembang. Tantangan yang ia warisi juga tidak ringan: skuad yang tipis, kebijakan baru yang lebih mengutamakan pembinaan pemain akademi ketimbang belanja pemain, plus keinginan menerapkan gaya bermain menyerang.

Kekalahan 5-0 dari Chelsea dan Percakapan Jujur

Awal perjalanan Olid di Manchester United jauh dari mulus. Dalam dua laga pembukanya, timnya kalah 2-1 di markas London City Lionesses, lalu dipermalukan Chelsea 5-0 di kandang sendiri di hadapan pendukung sendiri. Hasil tersebut menjadi pukulan telak bagi pelatih anyar yang baru saja tiba di klub sebesar United.

Namun, kekalahan dari salah satu rival perebutan gelar itu justru ia nilai sebagai titik balik hubungannya dengan para pemain. “Pekan itu berat, banyak emosi. Ada percakapan-percakapan yang jujur. Saya mengambil tanggung jawab atas banyak hal. Saya rasa itu menjadi titik awal yang baik bagi para pemain,” jelasnya.

Menariknya, Olid mengaku tetap percaya diri di tengah situasi sulit tersebut. Alasannya sederhana: ia tahu persis di mana letak masalahnya. Sebagai mantan gelandang bertahan yang bangga bisa melakukan hal-hal sederhana dengan baik, ia memilih menyederhanakan persoalan, bukan menambah kerumitan. Ia berbicara, para pemain pun berbicara, dan semuanya sepakat tentang apa yang harus dilakukan.

Lima Laga Tak Terkalahkan dan Merangkak ke Posisi Ketujuh

Perubahan itu mulai terlihat saat Manchester United bertandang ke Arsenal. Meski tidak menang, timnya bertarung untuk satu sama lain dan bekerja keras sepanjang laga. Hasil imbang 1-1 di Emirates Stadium menjadi awal dari lima pertandingan beruntun tanpa kekalahan, sekaligus mengangkat United dari dasar klasemen ke posisi ketujuh.

Bagi Olid, itu baru permulaan. Ia menegaskan bahwa di Manchester United, mencari cara untuk menang adalah keharusan. Namun, ia juga sadar tantangannya lebih kompleks: bagaimana meraih kemenangan sambil tetap mengembangkan pemain dan menerapkan gaya bermain baru secara bersamaan. Menurutnya, dalam beberapa pekan terakhir timnya mulai menemukan keseimbangan yang dicari.

Pendekatan yang ia bangun memang bertumpu pada kejujuran dan keterbukaan. Alih-alih menutupi masalah, Olid memilih membicarakannya langsung bersama skuad, lalu membangun solusi bersama. Cara itu terbukti lebih efektif ketimbang sekadar mengganti formasi atau memutar pemain tanpa arah yang jelas.

Menyeimbangkan Kemenangan dan Pembinaan Pemain Muda

Pekerjaan Olid di Manchester United sebenarnya mencerminkan dilema yang makin sering dihadapi klub-klub besar di sepak bola putri. Di satu sisi, ekspektasi untuk menang dan bersaing di papan atas tidak pernah surut. Di sisi lain, banyak klub mulai mengalihkan fokus ke pembinaan pemain akademi sebagai jalan untuk membangun fondasi jangka panjang yang lebih berkelanjutan.

Kebijakan semacam itu punya konsekuensi langsung bagi seorang pelatih. Skuad yang tipis membuat ruang gerak di bursa transfer terbatas, sementara tuntutan gaya bermain menyerang menambah beban taktik. Olid harus mampu meracik pemain muda yang belum berpengalaman dengan tuntutan hasil instan, dan itu bukan perkara mudah di liga yang persaingannya semakin ketat.

Karena itu, rentetan lima laga tanpa kalah memiliki arti lebih dari sekadar tambahan poin. Hasil tersebut memberi para pemain kepercayaan diri bahwa gaya bermain baru bisa berjalan beriringan dengan hasil positif. Bagi manajemen klub, capaian itu juga menjadi pembenaran awal bahwa arah pembinaan pemain muda yang mereka pilih tidak salah, asalkan diiringi kesabaran dan kejelasan strategi.

Tapas, Tram, dan Mimpi Bermain di Old Trafford

Di luar lapangan, Olid mulai berusaha menemukan kenyamanan di Manchester, dimulai dari urusan perut. Ia mengaku belum menemukan tapas yang benar-benar autentik di kota itu. “Saya harus bilang, beberapa bar tapas di sini belum 100 persen autentik,” katanya sambil tersenyum. Pengalaman serupa ia alami di Skotlandia, yang butuh waktu baginya untuk menemukan tempat makan yang terasa seperti rumah.

Soal transportasi, Olid mengaku belum berani mengemudi di jalan raya Inggris. Ia justru menikmati transportasi umum, terbiasa banyak menggunakan bus selama di Skotlandia, dan kini sedang mempelajari rute tram di Manchester. Bagi pelatih yang sibuk, cara ini sekaligus memberinya kesempatan kecil untuk mengenal kota di sela agenda latihan dan pertandingan.

Ada satu tempat di Manchester yang sudah ia kunjungi: Old Trafford. Olid pernah datang ke sana 13 tahun lalu sebagai penggemar sepak bola dan menyimpan kenangan luar biasa. Pada Sabtu lalu ia kembali ke sana untuk kedua kalinya dan sempat diperlihatkan ruang ganti pemain. Ia pun berharap bisa merasakan bermain di stadion ikonik itu bersama tim putri United musim ini, sesuatu yang ia sebut sebagai mimpi.

Sepuluh pekan pertama memang baru pembuka. Tantangan sesungguhnya bagi Eva Olid adalah menjaga konsistensi performa Manchester United sepanjang musim, sambil tetap setia pada gaya bermain dan filosofi pembinaan yang ia yakini.