FIFA Dikritik: Perjudian Jadi Celah Kecurangan Piala Dunia

Written by

in

,

Kritik FIFA Soal Perjudian dan Integritas Turnamen

FIFA kembali mendapat sorotan tajam setelah Sekretaris Jenderal Dewan Eropa, Alain Berset, melontarkan kritik keras terhadap kebijakan organisasi sepak bola dunia tersebut. Dalam surat terbuka yang dirilis bertepatan dengan final Piala Dunia 2026, Berset menegaskan bahwa kemitraan FIFA dengan platform taruhan dan intervensi politik telah membuka celah besar bagi kecurangan. Ia menyebut praktik perjudian yang semakin meluas sebagai kritik FIFA soal perjudian yang mengancam integritas olahraga.

FIFA

Menurut Berset, FIFA justru memberikan “pintu terbuka bagi penipuan” melalui kerja samanya dengan ADI Predictstreet, yang ditunjuk sebagai mitra resmi prediksi Piala Dunia. Ia mengingatkan bahwa taruhan kini tidak lagi terbatas pada hasil akhir pertandingan, melainkan mencakup momen-momen kecil yang diciptakan pemain tanpa mengubah skor. “Sebuah taruhan dimenangkan dengan membuat orang lain kalah. Ini adalah pintu terbuka menuju kecurangan,” tulis Berset dalam suratnya.

Kontroversi Seputar Sanksi Folarin Balogun

Berset secara spesifik menyoroti keputusan FIFA yang membatalkan sanksi terhadap penyerang timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, hanya dalam hitungan hari tanpa alasan yang jelas. Keputusan ini diambil setelah adanya panggilan telepon antara Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Presiden AS Donald Trump. Berset menilai insiden ini menunjukkan bagaimana tekanan politik mampu membengkokkan aturan, sehingga setiap hasil pertandingan menjadi diragukan.

“Ketika aturan bisa dibengkokkan di bawah tekanan, setiap hasil menjadi tercemar keraguan,” tulis Berset. Ia juga menyinggung komentar ofensif dari sejumlah pejabat publik, termasuk senator Paraguay Celeste Amarilla tentang Kylian Mbappé dan mantan perdana menteri Spanyol Mariano Rajoy mengenai tim Prancis. Semua ini, menurutnya, menambah daftar pertanyaan panjang tentang kredibilitas penyelenggaraan Piala Dunia.

Hubungan FIFA–Dewan Eropa yang Mulai Retak

Kritik ini terbilang langka mengingat FIFA dan Dewan Eropa telah menandatangani nota kesepahaman pada 2018 yang masih berlaku. Perjanjian itu bertujuan memperkuat kerja sama di bidang hak asasi manusia, integritas, dan tata kelola olahraga yang baik. Namun, kritik terbuka dari salah satu mitra terhadap mitra lainnya sangat jarang terjadi.

Berset, yang berasal dari Swiss, mengusulkan pembentukan kerangka kerja integritas baru sebelum Piala Dunia 2030 yang sebagian besar akan digelar di Eropa. Ia merujuk pada keberhasilan Dewan Eropa dalam menciptakan perjanjian mengikat untuk melindungi penggemar setelah tragedi Heysel pada 1985, serta peraturan anti-doping dan anti-pengaturan skor. “Pekerjaan mendesak untuk memperkuat integritas olahraga harus dimulai malam ini,” tegasnya.

Dukungan untuk Infantino dan Reaksi UEFA

Surat Berset muncul sekitar 10 hari setelah 72 anggota Parlemen Eropa menulis surat kepada 27 asosiasi sepak bola yang berbasis di Uni Eropa, meminta penyelidikan atas keterlibatan Infantino dalam kasus Balogun. Mereka menduga telah terjadi pelanggaran netralitas politik dan pelanggaran kode etik FIFA. Namun, UEFA selaku induk sepak bola Eropa tampaknya tidak akan secara resmi menindaklanjuti masalah ini.

Di sisi lain, lebih dari 200 asosiasi anggota FIFA secara resmi mendukung upaya Infantino untuk dipilih kembali untuk masa jabatan keempat pada Maret mendatang. FIFA sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas kritik Berset hingga berita ini diturunkan.

Ringkasan Poin Utama Kritik terhadap FIFA

  • Kemitraan FIFA dengan platform taruhan ADI Predictstreet dianggap membuka celah kecurangan.
  • Pembatalan sanksi Folarin Balogun tanpa alasan jelas menunjukkan lemahnya independensi komite disiplin.
  • Tekanan politik dari tokoh seperti Donald Trump dan komentar pejabat publik merusak citra turnamen.
  • Dewan Eropa mendesak pembentukan kerangka integritas baru sebelum Piala Dunia 2030.
  • Mayoritas asosiasi anggota FIFA tetap mendukung Infantino meski kontroversi terus bermunculan.

Kritik FIFA soal perjudian dan intervensi politik yang disampaikan Alain Berset mengingatkan bahwa integritas olahraga tidak bisa dipertaruhkan demi keuntungan finansial atau hubungan kekuasaan. Tanpa langkah perbaikan yang konkret, Piala Dunia mendatang berisiko kehilangan kepercayaan publik. Pertanyaan yang dilontarkan Berset tidak akan hilang begitu upacara penutupan selesai.