Manajer Fabian Hurzeler menegaskan bahwa ia tidak ingin Brighton & Hove Albion terus dikenal sebagai klub yang “baik”. Ia justru menyerukan kepada para pendukungnya untuk menciptakan atmosfer keras Brighton saat timnya melakoni laga pembuka Conference League, Kamis mendatang.
Brighton akan menjamu Kauno Zalgiris pada partai pertama mereka di kompetisi antarklub Eropa tersebut. Hurzeler berharap momentum dari awal musim yang impresif di Premier League bisa terbawa ke panggung Eropa, mengingat The Seagulls kini menempati posisi ketiga klasemen setelah enam pertandingan berjalan.

Seruan Hurzeler: Brighton Harus Berhenti Jadi Klub yang “Baik”
Dalam pernyataannya menjelang laga, Hurzeler menjelaskan maksud dari istilah yang ia lontarkan tersebut. Menurutnya, frasa “klub kotor” atau “atmosfer kotor” bukan berarti bermain curang, melainkan membangun mentalitas bertanding yang tidak lagi bersikap sopan berlebihan di atas lapangan.
Ia secara khusus membahas pentingnya membangun “benteng” di kandang sendiri. Hurzeler ingin para pendukung menciptakan suasana yang riuh dan penuh energi, sehingga stadion berubah menjadi faktor penentu yang menyulitkan tim tamu.
“Saya memakai kata ini, klub kotor atau atmosfer kotor ini — kurang lebih itulah yang saya maksud dengan frasa tersebut,” ujar Hurzeler. “Seperti, terus bangun benteng ini di kandang. Bersama para penggemar, menciptakan atmosfer yang riuh dan penuh energi, di mana mereka menjadi pemain ke-12 kami, dan menurut saya itu contoh dari tidak bersikap baik.”
Mentalitas “Ruthless” Jadi Kunci Ambisi Trofi Brighton
Hurzeler menyadari bahwa reputasi Brighton sebagai klub dengan struktur rapi dan salah satu sistem rekrutmen terbaik di dunia justru tidak cukup untuk meraih gelar. Menurutnya, hal-hal semacam itu tidak membantu tim memenangi trofi apa pun.
Karena itu, ia menuntut pola pikir baru dari para pemainnya. Ia ingin skuadnya fokus pada kekuatan sendiri, percaya pada kualitas yang dimiliki, sekaligus yakin mampu bersaing dengan tim mana pun — tanpa terjebak pada citra klub yang terlalu bersikap baik.
Ketegasan itu juga ia harapkan muncul dalam duel-duel perorangan. Hurzeler menyatakan Brighton tidak boleh bersikap lembut, melainkan harus ruthless atau tanpa ampun ketika menghadapi lawan. Tujuannya jelas: menciptakan suasana yang membuat tim tamu merasa tidak nyaman berkunjung ke markas mereka.
“Kita juga tidak bersikap baik dalam duel perorangan. Kami ingin tanpa ampun dalam duel perorangan. Kami ingin menciptakan atmosfer penuh energi ini, yang membuat lawan sangat sulit datang ke tempat ini,” lanjutnya.
Rekam Jejak Eropa dan Modal Awal Musim Brighton
Laga melawan Kauno Zalgiris menjadi penampilan kedua Brighton di kompetisi Eropa utama sepanjang sejarah klub. Sebelumnya, mereka pernah menembus babak 16 besar Europa League pada musim 2023-24, sebelum tersingkir oleh Roma dengan agregat 4-1.
Selain itu, catatan pertahanan Brighton di panggung Eropa terbilang mengesankan. Mereka selalu mencatatkan clean sheet pada lima kemenangan terakhir di kompetisi Eropa utama, dan tiga kemenangan terakhir di antaranya diraih dengan skor 1-0.
Modal tersebut berpadu dengan performa solid di liga domestik. Posisi ketiga setelah enam pertandingan menjadi bukti bahwa Brighton datang ke kompetisi Eropa dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi dibanding musim-musim sebelumnya.
Klub juga telah menyatakan ambisi untuk meraih trofi pada musim ini. Hurzeler menilai target itu hanya bisa dicapai jika timnya tampil tanpa kompromi, bukan sekadar bermain apik dan rapi secara organisasi.
Dampak bagi Brighton: Budaya Klub hingga Peran Suporter
Pernyataan Hurzeler menyentuh sisi yang jarang dibahas, yakni budaya klub dan hubungan dengan suporter. Klub-klub dengan struktur manajemen tertata kerap dipuji, tetapi pujian itu tidak otomatis berbuah trofi. Hurzeler tampaknya ingin menggeser fokus dari pengakuan eksternal menuju tuntutan hasil.
Bagi para pendukung, seruan ini menjadi undangan langsung untuk terlibat. Hurzeler menyebut mereka sebagai pemain ke-12, isyarat bahwa dukungan tribun bukan sekadar latar, melainkan bagian dari strategi pertandingan.
Di sisi lain, pesan tersebut juga membawa tekanan tersendiri bagi skuad. Menuntut mentalitas tanpa ampun berarti pemain dituntut konsisten agresif, baik saat menguasai bola maupun ketika kehilangan bola, terutama dalam laga-laga yang berjalan ketat seperti kemenangan 1-0 yang sudah beberapa kali mereka raih di Eropa.
Konteks Lebih Luas dan Langkah Selanjutnya
Pendekatan Hurzeler mencerminkan tren yang lebih luas di sepak bola modern. Banyak klub dengan model rekrutmen cerdas dan pengelolaan modern mulai menyadari bahwa efisiensi di luar lapangan harus dilengkapi dengan ketangguhan mental di dalamnya.
Ia sendiri mengakui bahwa Brighton telah membuat kemajuan besar dalam beberapa bulan dan satu tahun terakhir. Namun, menurutnya kemajuan itu harus terus dibangun bersama para penggemar agar klub tidak lagi dicap sebagai klub sepak bola yang sekadar baik.
Klub juga menggelorakan semangat itu melalui kanal resmi mereka, dengan menyerukan dimulainya kampanye Conference League. Langkah berikutnya ada di lapangan: apakah Brighton mampu mengubah seruan menjadi kemenangan di laga pembuka, sekaligus membuktikan bahwa mentalitas baru yang diminta pelatihnya benar-benar berjalan.
Jika berhasil, partai melawan Kauno Zalgiris bisa menjadi penanda perubahan identitas Brighton di kompetisi Eropa. Sebaliknya, jika gagal, tuntutan Hurzeler akan terus menggema hingga laga-laga berikutnya.
Pada akhirnya, apa yang diminta Hurzeler sederhana tetapi menantang: menjadikan kandang Brighton sebagai tempat yang tidak nyaman bagi siapa pun yang datang, dan menjadikan sikap tanpa kompromi sebagai kebiasaan, bukan sekadar slogan menjelang pertandingan besar.
