Kontroversi Gianni Infantino: Minta Maaf, Didesak Mundur

Written by

in

,

Presiden FIFA Gianni Infantino akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada FIFA Council atas rencananya menjual sebagian saham turnamen FIFA. Permintaan maaf itu disampaikan dalam rapat selama tiga jam di Zurich pada Kamis (15/10), setelah ia dianggap tidak lebih dulu memberi tahu dewan soal gagasan tersebut. Namun, sejumlah pemimpin sepak bola Eropa, termasuk Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) Debbie Hewitt, menilai permintaan maaf itu belum cukup dan tetap mendesak Infantino mundur dari kursi presiden FIFA.

Gianni Infantino

Kontroversi Gianni Infantino kali ini menyeret beberapa isu sekaligus: skema penjualan saham bertajuk FIFA Forward Enterprise (FFE), Hadiah Perdamaian FIFA yang diberikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sampai keputusan menangguhkan hukuman larangan bermain satu laga bagi penyerang timnas AS, Folarin Balogun, selama Piala Dunia. UEFA menuntut agar seluruh dokumen terkait rencana penjualan saham dibuka karena mereka yakin 20 persen saham di semua turnamen FIFA di masa depan dijual dengan harga yang jauh di bawah nilai wajar. Rapat di Zurich juga menyepakati bahwa temuan soal Hadiah Perdamaian dan prosedur disiplin akan dibahas lagi pada pertemuan dewan berikutnya, Desember 2026.

Kronologi Kontroversi Gianni Infantino dan Skema Penjualan Saham

FIFA sebelumnya mengumumkan tengah menyiapkan peluncuran FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah skema yang menggabungkan penjualan hak komersial FIFA — mencakup hak siar, sponsor, penjualan tiket, dan lisensi — dengan pelaksanaan operasional turnamen-turnamennya. Dengan kata lain, FFE dirancang sebagai wadah yang menyatukan sumber pendapatan dan pengelolaan acara dalam satu entitas. Gagasan ini menjadi pintu masuk bagi rencana yang kemudian menuai polemik, yakni menjual sebagian kepemilikan FIFA kepada investor swasta.

Infantino lantas memberi tenggat hingga 19 September bagi asosiasi sepak bola untuk mendukung proposal penjualan sebagian FIFA kepada investor swasta, lengkap dengan insentif senilai £30,1 juta bagi yang menyetujui. Proposal itu menuai kritik keras dari UEFA, CONCACAF (asosiasi Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia), serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Tekanan dari berbagai federasi itu akhirnya membuat Infantino membatalkan rencananya setelah gelaran Piala Dunia musim panas lalu.

Yang menjadi inti keberatan pihak penentang adalah skala dan harga penjualannya. Infantino disebut hendak melepas 20 persen saham, bukan hanya di Piala Dunia, tetapi juga di seluruh turnamen FIFA untuk selamanya, melalui perusahaan baru yang nilainya disebut hanya US$20 miliar. Padahal, Piala Dunia musim panas ini saja diklaim menghasilkan US$15 miliar. Perbandingan angka itulah yang membuat para pemimpin sepak bola Eropa yakin bahwa aset FIFA berpotensi dilepas dengan harga miring.

Desakan Mundur dari Pemimpin Sepak Bola Eropa Menguat

Ketua FA Debbie Hewitt menegaskan bahwa anggota dewan belum menerima jawaban atas hal-hal yang secara khusus mereka pertanyakan, baik soal FFE maupun insiden Balogun. Kasus Balogun menjadi sorotan karena larangan bermain satu laga untuk penyerang timnas AS itu dicabut setelah adanya panggilan dari Presiden Trump kepada Infantino. Menurut Hewitt, tuntutan utama dari para anggota dewan adalah keterbukaan dan akuntabilitas dari orang nomor satu di FIFA tersebut.

“Orang ini harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dan jika dia tidak menjawabnya, maka tidak, dia tidak layak menjadi presiden FIFA. Itulah yang disampaikan dalam rapat,” ujar Hewitt kepada wartawan di Zurich. Ia menambahkan bahwa Infantino justru meminta para anggota mengirimkan daftar pertanyaan kepada dirinya. Jumlah pertanyaannya sangat banyak, dan kini menurut Hewitt tinggal giliran Infantino untuk menjawab semuanya secara terbuka.

Dalam analisisnya, kepala koresponden Sky Sports News Kaveh Solhekol menilai permintaan maaf itu tidak akan memuaskan para pemimpin sepak bola Eropa karena mereka sudah muak dengan Infantino dan menginginkan dia keluar. Mereka memandang persoalan ini sebagai skandal terakhir dari daftar panjang skandal yang menumpuk. Menurut Solhekol, para pemimpin Eropa juga telah menempuh jalur pengadilan untuk memaksa Infantino membuka seluruh dokumen dan angka terkait rencananya, karena mereka yakin bukti-bukti itu dapat memicu skandal besar jika benar menunjukkan penjualan saham turnamen FIFA kepada pihak yang dekat dengan Presiden Trump dengan harga murah.

Hadiah Perdamaian FIFA dan Kasus Balogun di Meja Rapat

Selain skema penjualan saham, FIFA tengah meninjau Hadiah Perdamaian yang kontroversial dan hadiah itu kemungkinan besar akan dihentikan tahun ini. Presiden Trump menerima penghargaan pertama tersebut dari Infantino di Washington pada Desember lalu, tak lama sebelum undian Piala Dunia. Hadiah Perdamaian ini baru diperkenalkan pada 2025, sehingga Trump sejauh ini menjadi satu-satunya penerimanya, meski FIFA tahun lalu menyatakan bahwa hadiah tersebut diberikan setiap tahun.

Tidak banyak yang memahami alasan Infantino tiba-tiba memutuskan bahwa FIFA perlu memiliki Hadiah Perdamaian, dan bagaimana proses penetapan penerimanya. Penghargaan tersebut secara luas dinilai sebagai cara Infantino mengambil hati Trump setelah Presiden AS itu gagal meraih Nobel Perdamaian. Keputusan final soal pencabutan hadiah akan diambil pada pertemuan dewan berikutnya di Desember, setelah Komite Tanggung Jawab Sosial FIFA melakukan penilaian lebih dulu.

Dalam rapat yang sama, Infantino juga menghadapi sorotan atas keputusan menangguhkan larangan bermain satu laga bagi Balogun selama Piala Dunia. Hasilnya, Komite Hukum FIFA akan meninjau prosedur disipliner yang berlaku, dan temuan mereka bersama hasil kajian Hadiah Perdamaian akan dipresentasikan pada pertemuan dewan berikutnya pada Desember 2026.

FIFA Siapkan Dana Solidaritas hingga US$6,35 Miliar

Di sisi lain, FIFA mengumumkan rencana melalui Program Solidaritas Surplus FIFA untuk memanfaatkan sebagian cadangan dananya guna melipatgandakan pendanaan yang direncanakan untuk periode 2027–2030 menjadi US$6,35 miliar atau sekitar £4,79 miliar. Dari jumlah itu, setiap asosiasi anggota diperkirakan menerima sekitar US$25 juta atau setara £18,8 juta. Gagasan ini juga akan dikaji pada pertemuan Desember.

Sejumlah pihak menilai tawaran dana besar itu tidak bisa dilepaskan dari upaya meredam kritik yang mengarah kepada kepemimpinan Infantino. Namun, dari sudut pandang asosiasi anggota, tambahan pendanaan memang menjadi isu yang sangat penting karena banyak federasi membutuhkan dukungan finansial untuk pembinaan dan kompetisi. Karena itu, pembahasan soal dana solidaritas berpotensi berjalan beriringan dengan sorotan atas tata kelola FIFA.

Dengan kata lain, agenda Desember akan menjadi momen krusial karena tiga hal dibahas sekaligus: hasil tinjauan prosedur disiplin, masa depan Hadiah Perdamaian, serta rencana pendanaan surplus. Keputusan-keputusan itu akan menjadi indikator seberapa besar ruang gerak Infantino di sisa masa jabatannya, terutama ketika tekanan untuk mundur terus menguat.

Implikasi bagi FIFA dan Peta Kekuatan Jelang Pemilu

Infantino berharap dapat terpilih kembali untuk periode keempat tahun depan, tanpa penantang seperti dua pemilihan sebelumnya. Ia meyakini masih memiliki dukungan yang cukup dari berbagai penjuru dunia untuk menang lagi dalam pemilihan di Maroko pada Maret nanti. Namun, UEFA tetap ingin mengajukan kandidat untuk menantangnya karena menilai rangkaian kontroversi dan skandal telah membuat kepemimpinannya tidak lagi layak dipertahankan.

Tekanan terhadap Infantino bertambah setelah muncul kabar bahwa ia menerima £1,3 juta pada 2024, di tengah upaya para pemimpin Eropa mendorongnya untuk mundur. Persoalan ini memperkuat tuduhan soal kurangnya transparansi di tubuh FIFA. Ketika permintaan dokumen tidak dipenuhi secara terbuka, kekhawatiran yang muncul bukan hanya soal integritas satu orang, tetapi juga soal bagaimana keputusan strategis FIFA diambil dan siapa yang menanggung risikonya.

Bagi para asosiasi anggota di luar Eropa, situasi ini menjadi dilema tersendiri. Mereka dihadapkan pada pilihan mendukung pemimpin yang menjanjikan tambahan dana, atau bergabung dengan gelombang desakan perubahan yang digerakkan federasi-federasi Eropa. Karena itu, perolehan suara pada pemilu nanti sangat bergantung pada bagaimana kampanye mengenai tata kelola dan pendanaan ini dimainkan dalam beberapa bulan ke depan.

Siapa Penantang Potensial Infantino?

Beberapa nama yang disebut berpotensi menantang Infantino adalah Arsene Wenger, Luis Figo, dan Michelle Kang. Siapa pun yang ingin menantangnya harus mendeklarasikan pencalonan paling lambat 18 November. Sejumlah pengamat menilai akan lebih menguntungkan bagi penantang untuk mengumumkan niat mereka sedekat mungkin dengan tenggat, agar Infantino dan pendukungnya punya waktu lebih sedikit untuk bersiap menghadapi rival.

Mantan manajer Arsenal, Wenger, sangat dihormati di dunia sepak bola, tetapi sejauh ini belum menunjukkan minat untuk memimpin FIFA. Ia merasa betah menjabat sebagai kepala pengembangan sepak bola global FIFA sejak 2019, meski ia pernah merilis pernyataan pada Agustus yang mengkritik rencana Infantino menjual sebagian saham Piala Dunia. Posisinya justru diangkat oleh Infantino, dan ia pernah mendukung sejumlah proyek kontroversial presiden FIFA tersebut, seperti Piala Dunia dua tahunan dan perluasan Piala Dunia Antarklub.

Sementara itu, Luis Figo melancarkan serangan tajam terhadap Infantino melalui kolom di surat kabar dan menyerukan pengunduran dirinya setelah skandal penjualan saham Piala Dunia. Bintang mantan pemain Real Madrid dan Barcelona itu memiliki profil yang cukup kuat untuk menantang, tetapi perannya sebagai penasihat UEFA sejak 2017 berpotensi menyulitkan upayanya mengumpulkan suara dari asosiasi sepak bola di berbagai belahan dunia. Kang, pemilik klub Lyon, London City Lionesses, dan Washington Spirit, juga disebut sebagai kandidat potensial, namun belum ada tanda-tanda bahwa ia sedang bersiap menantang Infantino.

Apa Itu FIFA Council?

FIFA Council adalah dewan yang memiliki 37 anggota dan berfungsi efektif sebagai badan pengurus FIFA. Susunannya terdiri dari presiden FIFA Gianni Infantino, delapan wakil presiden, dan 28 anggota lain yang dipilih oleh asosiasi anggota FIFA. Keberadaan dewan ini penting karena menjadi forum tempat keputusan strategis dibahas dan dipertanggungjawabkan.

Delapan wakil presiden tersebut mencakup Presiden UEFA Aleksander Ceferin serta para presiden lima konfederasi lainnya. Ketua FA, Debbie Hewitt, juga menjabat sebagai salah satu wakil presiden. Dari komposisi inilah terlihat mengapa dinamika di dalam rapat Zurich menjadi begitu menentukan: suara anggota dewan mewakili kepentingan federasi di berbagai kawasan, bukan hanya Eropa.

Permintaan maaf Gianni Infantino di Zurich belum mampu meredakan gelombang desakan agar ia mundur, terutama dari pemimpin sepak bola Eropa yang menuntut keterbukaan dokumen dan angka terkait rencana penjualan saham turnamen FIFA. Sejumlah agenda penting masih menanti pada pertemuan dewan Desember, mulai dari nasib Hadiah Perdamaian FIFA, hasil tinjauan prosedur disiplin, hingga rencana pendanaan surplus yang bisa memengaruhi sikap asosiasi anggota.

Sementara itu, tenggat pencalonan penantang pada 18 November dan pemilihan di Maroko pada Maret akan menjadi ujian nyata bagi posisi Infantino. Jika tidak ada kandidat yang maju, ia berpeluang besar kembali terpilih; tetapi bila tekanan terus berlanjut dan dokumen yang dituntut akhirnya dibuka, peta dukungan menjelang pemilu bisa berubah dengan cepat.